Project

Profile

Help

Task #82574

[wa] Guru Besar UI Indonesia Tinggal Tunggu Waktu Dikuasai Sepenuhnya China jika rakyat hanya diamh...

Added by Harry Sufehmi about 2 months ago. Updated 20 days ago.

Status:
Closed
Priority:
Normal
Assignee:
-
Start date:
10/22/2021
Due date:
% Done:

0%

Estimated time:
Company:
-
Contact person:
-
Additional contact persons:
-

Description

Request for fact check about

Guru Besar UI: Indonesia Tinggal Tunggu Waktu Dikuasai Sepenuhnya China (jika rakyat hanya diam)
https://hajinews.id/2021/05/03/ngeri-guru-besar-ui-indonesia-tinggal-tunggu-waktu-dikuasai-sepenuhnya-china/

Abd Wadud Masjkuri: Detik-Detik Terakhir Indonesia Menuju Punah https://www.jernihnews.com/artikel/19/detik-detik-terakhir-indonesia-menuju-punah.html

Tak ada lagi yang diharapkan dari sebuah negara ketika kebohongan sudah menjadi watak kekuasaan. Tak ada lagi harapan sebuah negara akan maju apabila para cukong, politisi dan aparatnya sudah bersekongkol dalam tindak kejahatan secara terbuka tanpa rasa malu, tanpa rasa berdosa, dan tanpa rasa apa-apalagi atas nama sebuah azas dan norma demi kepentingan kelompoknya.

Kasus Harun Masiku, Djoko Tjandra, dan penganiayaan terhadap penegak hukum Novel Baswedan adalah gambaran kecil nyata bagaimana negeri ini sudah tidak berdaya lagi. Tapi itulah tipikal bangsa Indonesia yang 'hypokrit melowdramatic'. Mudah marah, mudah iba, mudah simpatik, ewuh pakewuh, tapi juga mudah melupakan.

Ibarat menuangkan air kebohongan ke dalam gelas, kalau kebohongannya satu, dua dan tiga jumlahnya akan mudah diingat. Tapi kalau kebohongan yang dituangkan ratusan, ribuan, bahkan sengaja dicampur dengan menajemen berita hoax? Maka yang akan tercipta kebingungan, kejenuhan, yang akhirnya lahirlah masyarakat yang apatis tak tahu lagi mana yang benar dan salah. Itulah yang disebut "post truth". Hasil rekayasa "logical fallacie" yang sistematis dan agitatif.

Kebenaran dan kemungkaran akan bertukar tempat. Yang benar akan jadi salah. Yang salah jadi benar. Orang baik akan dibuat jadi penjahat. Si penjahat dicitrakan seperti malaikat. Ibarat obat bulat jadi tahi kambing, tahi kambing bulat jadi obat. Otak kosong diadu dengan kotak kosong.

Hari ini kita dihebohkan dengan makar secara terang-terangan terhadap Pancasila yang selama ini begitu sakral bagi kehidupan bernegara bangsa Indonesia. Gelombang protespun tidak terelak-kan setiap hari dari berbagai lapisan masyarakat.

Pancasila diubah menjadi Eka Sila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Pancasila yang sudah final dirumuskan dan disepakati sebagai konsensus falsafah negara Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, di mana sila Pancasila disahkan sejalan dengan pembacaan UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, mau dirombak kembali menjadi Pancasila versi 1 Juni 1945. Versi satu orang saja seakan Indonesia ini milik satu orang saja.

Secara konstitusional ini sudah bisa dikatakan sebagai "makar" terhadap Pancasila. Secara hukum, inipun sudah cukup memenuhi unsur pidana perbuatan melawan hukum luar biasa "extraordinary crime".

Tapi sayang, rezim hari ini seakan tidak peduli dan tutup mata. Bahkan tidak cukup di situ. RUU HIP malah berubah "ujug-ujug" menjadi RUU BPIP. Ini justru lebih parah dan berbahaya lagi. Secara prosedur hukum sudah cacat prosedur, karena disahkan masuk pembahasan prolegnas 2020 tanpa melalui usulan dan tahapan badan legislasi serta paripurna. Artinya secara prosedur hukum, RUU BPIP ini jelas cacat prosedur. Cacat azas.

Secara muatan hukum. Kita tentu belum bisa melupakan bagaimana statemen ketua BPIP beberapa bulan lalu, secara lantang mengatakan agama adalah musuh utama Pancasila.

Hari ini, sejalan dengan komentar ketua BPIP itu, menteri agama secara terang-terangan tanpa rasa takut dan malu, juga telah menghapus 155 buku dan mata pelajaran Islam di sekolah Islam seperti MAN dan MTsN. Dengan alasan radikalisme.

Kalau zaman Soeharto sekolah MAN dan MTsN dibuat untuk mereduksi sekolah Islam kultural menjadi sekolah Islam nasional. Hari ini rezim menghapus kurikulum dasar Islam. Namanya sekolah Islam, tapi yang diwajibkan bahasa Cina, Bahasa Arab dihapuskan. Aneh bukan?

Artinya apa yang kita tangkap dari semua ini ? Jawabannya adalah ; Indonesia sudah berada pada titik nadir kehancuran sebagai bangsa yang berPancasila sesuai dengan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945. Atau lebih konkritnya lagi, kalau kita jujur Indonesia itu sebenarnya sudah tak ada lagi. Dalam artian Indonesia yang sesuai konstitusi kita yaitu Indonesia yang berkedaulatan rakyat, Indonesia negara hukum, dan Indonesia ber-Pancasila.

Karena faktanya hari ini, Indonesia sudah berubah menjadi berkedaulatan partai po

kondisi hari ini sebagai bahagian dari kekuasaan. Bersuara benar, takut lepas jabatan.

Tinggallah rakyat, para ulama, cendikiawan, aktifis, purnawirawan tentara yang dengan gigih tetap berjuang menyuarakan kebenaran dan peringatan bahwa ; negeri ini sedang mengalami "sakaratul maut". Menuju kepunahan.

Indonesia hari ini, sedang menuju sebuah tatanan Indonesia baru berhaluan super liberalis dan baru selanjutnya menjadi negara komunis. Tinggal satu tahapan lagi.

Mengganti Pancasila 18 Agustus 1945, menjadi Pancasila 1 juni 1945, adalah bukti nyata upaya penghapusan entitas keagamaan dari kehidupan bernegara Bangsa Indonesia. Ini nyata agenda komunis.

Pergantian RUU HIP menjadi RUU BPIP juga adalah sebuah bentuk arogansi rezim hari ini terhadap negara. Mengabaikan aspirasi politik mayoritas rakyat Indonesia demi kepentingan segelintir kelompok elit politik. Di sinilah anasir neo-komunisme dari para anak-anak PKI itu menyusup dan bermain.

RUU BPIP tak lain adalah sebagai bentuk penguatan atas kelembagaan BPIP. Kenapa ini berbahaya? Karena, setelah RUU BPIP ini disahkan, maka BPIP akan mempunyai kewenangan penuh dalam menafsirkan Pancasila sesuai kepentingannya dan penguasa.

BPIP akan menjadi tukang jagal ideologi, plus alat pemukul sekaligus hakim yang "membajak" Pancasila sesuai keinginannya. BPIP secara otomatis menjadi lembaga resmi negara yang dapat mendikte, mengatur, memaksa, bahkan mempidanakan siapa saja yang di anggapnya melanggar Pancasila. Sangat aneh bukan? Namanya BPIP tapi prilaku dan orientasinya bisa mengarah pola komunisme.

Dan sudah dapat dipastikan sasaran utamanya nanti adalah kelompok agama yaitu Islam. Artinya kedepan, BPIP dapat mengintervensi kehidupan beragama rakyat Indonesia secara total full power. Lembaga sekelas MUI pun dengan mudah bisa mereka bubarkan.

Apakah itu symbol, ajaran, dan ibadah ummat beragama atas nama Pancasila. Di sinilah titik berbahayanya. Pancasila akan mudah dijadikan alat gebuk dan alat pukul terhadap kelompok yang bertentangan dengan penguasa.

Tinggal kita lihat apakah teknis implementasinya meniru pola attartuk style atau Mao Tse Tung style. Di mana memberangus kehidupan agama dari kekuasaan negara. Agama akan dibuang jauh dan menjadi ancaman musuh negara.

Lalu bagaimana tindakan rakyat Indonesia yang masih ingin setia pada Pancasila dan beragama ? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Diam menerima apa adanya. Atau bangkit melawan sebagaimana para pendahulu kita merebut kemerdekaan.

Berharap kepada TNI-Polri sebagai tulang punggung negara? Hmmmm... berat dan hampir tidak mungkin. Karena dua institusi ini sudah mereka kunci dan pecah menjadi alat kekuasaan.

Ada sedikit harapan kepada TNI. Tapi sayang, secara institusi mereka terkunci oleh UU Nomor 34 tahun 2004. Secara individual mereka terkunci oleh Sapta Marga Prajurit. Kecuali rakyat yang memintanya. Saya yakin TNI masih setia bersama rakyat dan Pancasila. Yang pro pada penguasa hanya segelintir elitnya saja.

Namun semua tetap kembali dan tergantung kepada rakyat Indonesia. Karena sejatinya negara ini adalah milik rakyat. Bukan para cukong dan partai politik. Masih hidup bersama kita hari ini para ulama sholeh, para santri yang hebat, para jawara dan pendekar-pendekar sejati.

Masih banyak di negeri ini para pejuang, aktifis, purnawirawan dan mahasiswa yang cinta pada negeri ini. Masih banyak hidup bersama kita para raja nusantara dan para tentara, polisi, pejabat yang secara personal cinta Indonesia.

Tinggal merangkainya, tinggal menghimpunnya, tinggal saling seiya sekata, untuk kompak bersama bangkit melawan semua kerusakan ini. Sebelum terlambat.

Selagi matahari masih terbit dari timur, insyaAllah bumi nusantara ini akan kembali kita rebut dari tangan-tangan jahil para pengkhianat Pancasila. Mari bung rebut kembali Indonesia. Salam Indonesia Jaya!

Jakarta, 20 Juli 2020.

Click or copy-paste the url below in your browser to notify or invalidate the request.

Invalidate Request: https://kalimasada-1.turnbackhoax.id/menu-kalimasada/process.php?invalidate=61926

Notify Requesters: https://kalimasada-1.turnbackhoax.id/menu-kalimasada/process.php?notify=61926

From Cekfakta Kalimasada Whatsapp.

History

#1 Updated by Harry Sufehmi 20 days ago

  • Status changed from Open to Closed

Also available in: Atom PDF Tracking page