Project

Profile

Help

Task #749

TurnBackHoax "Upaya Dua Prof"

Added by Harry Sufehmi almost 2 years ago.

Status:
Open
Priority:
Normal
Assignee:
-
Category:
-
Start date:
10/02/2018
Due date:
% Done:

0%

Estimated time:
Company:
wbpjuanda@gmail.com
Contact person:
Wbpjuanda Wbpjuanda
Additional contact persons:
-

Description

From: Wida pramono <>
Subject: Upaya Dua Prof

Pesan dari Pelapor:

Mohon di cek kebenaran berita diatas
Terima kasih

======
Isi Hoax :

Upaya Dua Profesor UIN yang Ingin Selamatkan Kyiai Ma’ruf Amin
Untuk menyelamatkan Kiai Ma'ruf Amin, menurut Prof. Ahmad Zahro dan
Prof. Moeflich Hasbullah Hart, adalah dengan tidak memilihnya saat
Pilpres 2019 nanti.
Prof. DR. H. Ahmad Zahro, MA, Guru Besar Bidang Ilmu Fiqih Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, dan Prof. DR. Moeflich
Hasbullah Hart, Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung
Djati Bandung, ingin menyelamatkan KH Ma’ruf Amin.
Dalam Video “Main Cantik” Pilpres 2019 yang beredar itu ada pernyataan
Prof. Zahro dalam sebuah pertemuan para ulama-kiai, Selasa
(18/9/2018). Paparan Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum
(Unipdu) Jombang itu juga beredar di sejumlah WA Group.
Ketua IPIM (Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Seluruh Indonesia) itu
menegaskan, dirinya akan bermain cantik dalam Pilpres 2019. “Saya
mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, saya merasa dikhianati oleh
struktural (NU),” katanya.
“Mohon maaf, NU itu sejak 1984 sudah kembali ke khitthah 26. Lalu
mengapa sampai seperti itu (ikut berebut Cawapres),” katanya disambut
tepuk tangan hadirin. Sebagai Ketua Umum IPIM, Zahro menegaskan, ingin
main cantik, tidak melukai siapa pun.
Hal itu dilakukan justru karena ingin menghormati kiai kita. “Jangan
sampai kiai kita yang kita hormati, menjadi anak buahnya orang apa…,”
jelasnya langsung disambut takbir Allahu Akbar, seperti dilansir
Eramuslim.com, Senin (24/9/2018).
“Saya harus bijak, IPIM bebas memilih, asal jangan golput. Kalau bisa
sama dengan pilihan saya. Dan, kemarin 100 persen bersama saya. Saya
sedang keliling Indonesia. Yang jelas, saya tidak memilih kiai untuk
jabatan yang duniawi seperti itu,” katanya disambut takbir.
Menurutnya, ia tidak akan membiarkan umat Islam keliru, salah dalam
memilih pemimpin. “Organisasi kami (NU) dimakan Parpol, kemudian
diarahkan ke tempat sampah. Di sana menurut saya ada tempat sampah,
ada yang bangga menjadi anak …, masa’ bukan sampah?”
Prof. Moeflich Hasbullah Hart, Guru Besar Sejarah Peradaban Islam, UIN
Sunan Gunung Djati Bandung menilai, Ma’ruf Amin sejak nyawapres sudah
mulai luntur ciri-ciri keulamaannya. “Sejak jadi cawapres, beliau
menurunkan marwah keulamaannya,” ujarnya.
Menurutnya, dengan menjadi wakil dari seorang yang dari usia,
pengalaman, wibawa, ilmu agama, kapasitas, dan lain-lain jauh di bawah
Ma’ruf sendiri sebagai ulama sepuh, dihormati, berwibawa yang Ketua
Ulama Indonesia (MUI) dan lain-lain.
“Bayangkan ketua para ulama berbagai ormas! Yang mengkoordinir dan
mengomando para ulama se-Indonesia untuk membimbing pemerintah dan
umat dan memberikan tuntunan dan pegangan kepada umat sebagaimana
sebelumnya saat beliau masih Ketua MUI,” lanjutnya.
“Ini posisinya terbalik, harusnya Ma’ruf capres, Jokowi cawapres. Itu
baru bermartabat,” ujar Prof Moeflih. Jadi politisi tentu saja derajat
dan wibawanya lebih rendah dan menurun drastis dari seorang ulama
apalagi dari ketua organisasi ulama dari sebuah bangsa yang besar.
Menurutnya, Kiai Maruf mulai mengatakan banyak yang dipaksakan dalam
dirinya seperti akan mempromosikan dan mengembangkan Islam Nusantara.
“Itu bukan ucapan ulama,” tegas Prof. Moeflich.
Ulama itu harusnya akan menjaga Islam dan ajaran Rasulullah SAW karena
ulama adalah jelas-jelas gelar dan tugasnya sebagai waratsatul anbiya,
pelanjut perjuangan para nabi. Islam Nusantara sebagai ciri khas
wilayah kebudayaan, itu urusan dunia, tak perlu diperjuangkan.
“Itu khazanah kebudayaan saja. Yang harus didakwahkan oleh ulama itu
Islam ajaran Nabi SAW, bukan Islam karakeristik wilayah, apalagi kalau
karakteristik wilayah itu banyak yang tak sejalannya dengan ajaran
Islam,” ungkap Prof. Moeflich.
Akan mempromosikan Islam Nusantara kepada dunia? “Ya gak akan diterima
di wilayah bangsa lain, karena selain karakteristik wilayahnya
berbeda, juga ramah, toleran dan damai itu sudah ada dalam ajaran
Islam yang ada di berbagai wilayah dan negara,” lanjutnya.
Sedangkan tidak toleran dan tidak damai bukan masalah agama, yang
merusaknya adalah situasi politik di wilayah masing-masing. “Kiai
Ma’ruf juga memaksakan diri menegaskan anti khilafah demi meraih
suara,” kata Prof. Moeflih.
Jangan-jangan itu untuk menjual sikap anti-Islam pada pemilih sekuler
guna meraih simpati mereka. “Kan bahaya ulama begitu. Gak pantas ulama
anti khilafah dan syariat Islam. Ulama gak pantas anti dakwah Islam
untuk memajukan Islam atau menegakkan syariat-Nya,” tegas Prof.
Moeflih.
Menurut Prof. Moeflih, kalaupun khilafah belum bisa diterima di
Indonesia, jelaskan secara bijak kepada yang memperjuangkannya, tuntun
dan tenangkan mereka, bukan memusuhi apalagi melawannya. “Hargai niat
tulus dan semangat keagamaan mereka,” ujarnya.
“Allah SWT itu menghargai semangat dakwah, masa’ ulama malah
mematahkannya. Ulama harusnya tidak begitu. Ulama itu lilin dalam
kegelapan yang memberikan cahaya kepada berbagai kelompok umat,” tegas
Prof. Moeflich.
“Anti khilafah itu biarkan Banser, Ansor, dan non Muslim saja sebagai
penyeimbang wacana sehingga masyarakat bisa menilai mana yang lebih
baik sikap dan ide-idenya,” lanjut Prof. Moeflich.
Prof. Moeflih menilai, Ma’ruf juga mulai menyerang-nyerang kelompok
Prabowo Subianto yang didukung oleh Ijtima’ Ulama dengan mengatakan
ulama pendukung Prabowo itu bukan ulama sebenarnya. “Ini kan aneh bin
ironis, dan bisa jadi kejumawaan tanpa sadar. Ma’ruf mulai kotor oleh
politik,” ungkapnya.
Sejak bersedia jadi cawapres, lanjut Prof. Moeflich, Kiai Ma’ruf jadi
nampak ambisi jabatan. Ambisi jabatan bukan sifat dan karakter ulama
apalagi ulama senior.
“Bandingkan saja dengan UAS (Ustadz Abdul Somad), ulama muda tapi
sanggup menolak tawaran jabatan yang mentereng sebagai cawapres. Tak
heran kalau UAS jadi ulama idola, dia istiqamah,” jelas Prof.
Moeflich.
Sejak nyawapres alias terjun ke dunia politik praktis yang kotor,
kalau kita ikuti ribuan dari komentar-komentar tentang Kiai Ma’ruf di
internet dan medsos dari masyarakat yang tidak mendukung, “ya ampuuun
… nama Ma’ruf jadi hancuuur.”
Banyak celaan, pelecehan, hujatan, dan hinaan yang tak pantas
dilemparkan pada sosok ulama sepuh itu. Tentu saja sebagai rival
politik, segala disorot. Sasaran pada usia dan fisik sudah pasti.
“Saya sedih sekali ulama kita diperlakukan begitu, tapi itu resiko
yang harus diterima akibat beliau menceburkan diri. Kita gak bisa
mengatur pikiran dan emosi orang. Psy-war di medsos dan perang
dukungan memang dunia liar,” ujar Prof. Moeflih.
“Saya mencintai ulama. Sayangi Ma’ruf. Selamatkan dan jaga marwahnya
sebelum jauh lebih rusak dalam persaingan politik. Saya yakin dengan
menjadi wapres tak akan membuat beliau lebih baik kecuali karir dunia
saja,” tuturnya.
“Beliau tidak akan berperan banyak. Lihatlah usia dan fisiknya. KH
Zainuddin MZ saja juga pernah mengungkapkan dia tak kuat di politik
padahal masih muda. Selamatkanlah ulama yang tadinya lurus pejuang
Islam jadi kemungkinan bengkok,” tegas Prof. Moeflih.
Bagaimana menyelamatkan Kiai Ma’ruf? “Dengan tidak memilihnya berarti
menyelamatkan dan mencintainya,” tegas Prof. Moeflich.

--
This e-mail was sent from a contact form on TurnBackHoax
(https://www.turnbackhoax.id/lapor-hoax/)

Also available in: Atom PDF Tracking page