Project

Profile

Help

Task #61125

Indra Rudiansyah Vaksin Sel Dendritik Tak Praktis Dilakukan MassalKumparan20210729 2136Ik...

Added by Harry Sufehmi about 2 months ago. Updated about 2 months ago.

Status:
Closed
Priority:
Normal
Assignee:
-
Start date:
07/30/2021
Due date:
% Done:

0%

Estimated time:
Company:
-
Contact person:
-
Additional contact persons:
-

Description

Request for fact check about

Indra Rudiansyah: Vaksin Sel Dendritik Tak Praktis Dilakukan Massal
Kumparan

2021/07/29 21:36

Ikuti

Vaksin Nusantara yang berbasis sel dendritik ikut mendapat sorotan dari WNI yang ikut mengembangkan vaksin AstraZeneca di Universitas Oxford, Inggris, Indra Rudiansyah. Ia menilai untuk saat ini, vaksin corona dengan metode seperti vaksin besutan eks Menkes Terawan itu, tidak praktis untuk dipakai secara massal.

"Dalam kondisi ini selain memastikan keektifitasannya, kita perlu mempertimbangkan praktiknya di lapangan. Bayangkan jika kita perlu memvaksinasi sebanyak mungkin orang, dan secepat mungkin mencapai herd immunity," kata Indra secara virtual kepada wartawan, Kamis (29/7).

"Tetapi kita perlu ambil darah pasien, selnya diisolasi, dipertemukan dengan protein virus, disuntikkan lagi [kalau memakai metode ini]. Prosesnya panjang. Sehingga dalam pandemi ini, teknologi tersebut tidak praktikal dilakukan massal," tambah dia.

Indra Rudiansyah merupakan alumni Beswan Djarum sebagai penerima program Djarum Beasiswa Plus angkatan 2011/2012 dari Bakti Pendidikan Djarum Foundation.

Lebih rinci, Indra menerangkan sel dendritik adalah salah satu komponen sel imun dalam tubuh. Sel imun ada yang bawaan, ada pula yang adaptif.

Antibodi adalah sel imun adaptif yang dia menyesuaikan diri dengan beragam penyakit yang masuk. Sedangkan sel imun bawaan akhirnya akan berkurang fleksibilitasnya, apa pun virus yang masuk.

“Tapi sel imun bawaan juga penting karena dia memperkenalkan, membantu sel imun adaptif untuk bisa memerangi virus tadi. Nah, sel imun dendritik dia akan memproses si virus tadi, kemudian dia membantu mempresentasikan si virus ke sel imun adaptif. Itu sebenarnya normal,” lanjut dia.

“Nah teknologi sekarang memungkinkan sel dendritik kita diambil, dipertemukan dengan virusnya di luar di lab, nah si virus dan sel ini belajar, kan, di lab, dimasukkan kembali sehingga tinggal mengenalkan ke sel imun adaptif tadi. Prosesnya sebenernya sama saja, cuma tempatnya beda,” tambahnya.

Indra tidak memungkiri bahwa vaksin corona dengan metode sel dendritik bisa diterapkan di masa depan, bahkan bisa menjadi terapi bagi pasien COVID-19. Namun untuk saat ini, menurutnya mustahil bisa dipakai massal.

“Mungkin ke depannya bisa jadi terapi misalnya menghilangkan luka di paru-paru akibat COVID-19. Karena yang saya baca COVID-19 bisa menyebabkan luka di paru-paru. Dengan teknologi tersebut sel di paru-paru bisa disembuhkan. Tapi untuk mass vaccination tidak praktikal,” tutupnya

Click or copy-paste the url below in your browser to notify or invalidate the request.

Invalidate Request: https://kalimasada-1.turnbackhoax.id/menu-kalimasada/process.php?invalidate=47722

Notify Requesters: https://kalimasada-1.turnbackhoax.id/menu-kalimasada/process.php?notify=47722

From Cekfakta Kalimasada Whatsapp.

History

#1 Updated by Harry Sufehmi about 2 months ago

  • Status changed from Open to Closed

Also available in: Atom PDF Tracking page